Suara Dunia Nusantara – Pendampingan KKP budidaya ikan di kawasan Tanjung Bunga menunjukkan perkembangan pada Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) Mapan di Kecamatan Tamalate. Kelompok ini mulai berkembang setelah mendapatkan pembinaan intensif dari penyuluh perikanan.
Penyuluh Perikanan Ahli Pertama Kementerian Kelautan dan Perikanan Makassar, Siti Nursyamsi, menjelaskan kelompok tersebut dibentuk melalui kolaborasi antara penyuluh, pemerintah kelurahan, serta Dinas Perikanan dan Pertanian Kota Makassar.
Pembentukan Kelompok sebagai Dasar Pengembangan
Menurut Siti, sebelum terbentuknya kelompok, pembudidaya ikan di wilayah tersebut masih menjalankan usaha secara mandiri. Kondisi ini membuat akses terhadap program pemerintah menjadi terbatas.
“Kelompok ini dibentuk agar pembudidaya bisa lebih terarah dan terorganisir,” ujarnya.
Dengan pembentukan kelompok, masyarakat memiliki wadah untuk mendapatkan pembinaan, bantuan, serta akses program yang lebih luas. Dalam praktiknya, pendekatan ini menjadi dasar pengembangan usaha budidaya.
Potensi Wilayah Tanjung Bunga
Wilayah Tamalate yang berada di sekitar Danau Tanjung Bunga dinilai memiliki potensi besar untuk budidaya ikan nila. Hal ini terlihat dari kondisi perairan yang mengalir dan kaya nutrisi alami.
Air yang terus bergerak membawa unsur hara dan plankton yang mendukung pertumbuhan ikan. Kondisi tersebut dimanfaatkan masyarakat melalui sistem keramba.
Potensi ini menjadi alasan utama pemerintah mendorong pembentukan kelompok agar pengelolaan usaha lebih terstruktur.
Dukungan Awal dan Akses Bantuan
Pada tahun 2025, Kelompok Mapan menerima bantuan sebanyak 1.000 bibit ikan nila dari Kementerian Kelautan dan Perikanan. Bantuan ini menjadi stimulus awal untuk meningkatkan produksi.
“Bantuan ini bentuk dukungan pemerintah pusat untuk pengembangan perikanan di wilayah tersebut,” kata Siti.

Namun untuk tahun 2026, kelompok yang sama belum tentu kembali mendapatkan bantuan dari pusat. Sistem distribusi bantuan dilakukan secara merata agar kelompok lain juga memperoleh kesempatan.
Meski demikian, peluang bantuan tetap terbuka melalui pemerintah daerah. Kelompok didorong aktif mengajukan proposal untuk mendapatkan dukungan lanjutan.
Tantangan Biaya dan Adaptasi Produksi
Di lapangan, salah satu kendala utama yang dihadapi pembudidaya adalah tingginya biaya pakan. Kondisi ini mendorong kelompok untuk mencari alternatif produksi secara mandiri.
Kelompok Mapan mulai memanfaatkan bahan lokal seperti sayuran yang dicampur dengan sumber protein untuk membuat pakan sendiri. Langkah ini dinilai mampu menekan biaya operasional.
Selain itu, pemerintah juga telah menyalurkan mesin pembuat pakan kepada beberapa kelompok di Makassar. Namun, Kelompok Mapan belum menerima bantuan tersebut karena masih tergolong baru.
Di sisi lain, keterbatasan lahan menjadi hambatan dalam mengakses bantuan skala besar. Aktivitas budidaya yang dilakukan di bantaran sungai tanpa kepemilikan lahan tetap membuat akses terhadap program tertentu menjadi terbatas.
Dalam kondisi tersebut, pendampingan teknis tetap menjadi fokus utama. Penyuluh berupaya menyesuaikan bantuan dengan kondisi wilayah agar budidaya tetap berjalan optimal.
